Sudah Tahukah Anda? Penyebab Tindihan Yang Wajib Diketahui

Tidur merupakan saat istirahat terbaik yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup, tak terkecuali manusia. Namun, ketika tidur, kita mungkin pernah merasakan gangguan terhadap bagian tubuh tertentu seperti sesak napas serta ketidakmampuan untuk menggerakkan tubuh. Kondisi ini disebut sebagai tindihan. Lantas, apa itu tindihan dan apakah terdapat penjelasannya dalam dunia medis?

Di dalam dunia medis, tindihan sebenarnya memiliki penjelasannya tersendiri yang tentu bukan disebabkan oleh gangguan makhluk halus. Tindihan dikenal dengan nama sleep paralysis atau bisa diartikan sebagai tidur lumpuh. Kondisi ini bisa berlangsung hingga beberapa detik sampai menit. Menurut dunia medis, tindihan ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Faktor Penyebab Tindihan yang Harus Anda Pahami

1. Berhalusinasi

Saat seseorang mengalami tindihan, maka orang tersebut akan merasa seolah dada menjadi sesak, kesulitan untuk mengeluarkan suara hingga sulitnya menggerakkan anggota tubuh. Orang tersebut bisa dikatakan sedang dalam kondisi seolah sadar namun tak mampu melakukan apapun sementara pernapasannya seperti dicekik.

Salah satu faktor penyebab sleep paralysis adalah terjadinya malfungsi tidur yang dialami oleh penderita ketika berada pada tahap rapid eye movement (REM). Kondisi REM adalah salah satu tahapan pada saat orang tidur. Perlu diketahui bahwa tahapan orang tidur dibagi menjadi empat, yakni tidur setengah sadar atau paling ringan, tidur lebih dalam, tidur paling dalam dan terakhir adalah REM.

2. Bangunnya Otak Secara Mendadak

Ketika seseorang tidur dan berada dalam tahap REM, otak bisa saja tiba-tiba terbangun. Namun, bangunnya otak ini tidak dibarengi oleh bangunnya tubuh sehingga timbul situasi seperti ketindihan. Otak saat itu sudah sadar namun tubuh terasa tidak mampu untuk digerakkan sesuai keinginan. Kondisi ini terkadang dibarengi oleh kemunculan sosok hitam yang merupakan bagian dari mimpi.

3. Kekurangan Tidur

Apabila seseorang kekurangan istirahat, maka tahapan tidur yang seharusnya dijalani menjadi terlompat. Tahap tidur yang seharusnya melewati tidur setengah sadar atau paling ringan, tidur lebih dalam, tidur paling dalam baru kemudian REM, menjadi melompat langsung ke REM dari kondisi tahap tidur ringan.

Alhasil, tubuh pun bereaksi dengan memunculkan efek tindihan karena gelombang otak langsung melompat. Apabila Anda sering mengalami tindihan, bisa jadi hal tersebut timbul karena Anda kekurangan istirahat.

4. Faktor Usia

Faktor usia ternyata turut berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya frekuensi tindihan muncul. Berdasarkan penelitian, diperoleh data bahwa orang dengan rentang usia 10 sampai 25 tahun adalah rentang usia yang paling sering mengalami tindihan.

Meski terkesan remeh, namun tindihan yang terlalu sering terjadi harus tetap diwaspadai. Pasalnya, tindihan mungkin menjadi gejala dari kondisi depresi, kecemasan, narcolepsy dan mendengkur.

5. Gangguan Terhadap Mental

Berdasarkan penelitian medis yang pernah dilakukan sebelumnya, ditemukan fakta bahwa tindihan paling sering muncul pada orang yang memiliki riwayat depresi dan kecemasan berlebihan. Selain itu, orang dengan kondisi stress pasca-trauma juga lebih berisiko mengalami masalah tindihan.

Penelitian yang dilakukan di tahun 2011 oleh Universitas Pennsylvania State ini menemukan bahwa 31,9 persen orang dengan gangguan mental mengalami tindihan. Oleh karena itu sangat penting untuk mencari pertolongan terkait depresi dan stress berlebih.

Terlepas dari berbagai faktor penyebab tindihan di atas, Anda sebaiknya mengevaluasi pola hidup termasuk pola tidur sehari-hari. Pasalnya, salah satu cara mengatasi tindihan yang paling tepat adalah dengan menjalani pola hidup sehat dan teratur. Cukupi kebutuhan istirahat setidaknya sebanyak 8 jam dalam sehari. Usahakan pula tidur di waktu yang sama dan tidak bergadang.