Filosofi Kemenyan Menurut Pandangan Orang Jawa

Kali ini, kita akan bahas soal kemenyan. Atau biasanya orang Jawa akan menyebutnya, menyan saja. Banyak dari Anda, pasti sudah pernah mendengar tentang benda yang satu ini.

Dan banyak dari Anda, mungkin masih berpikir bahwa kemenyan itu sesuatu yang klenik, mistis, dan magis. Sesuatu yang identik dengan upacara penyembahan roh, atau mendatangkan makhluk halus. Padahal tidak selalu seperti itu.

Sebagian dari Anda mungkin masih ingat, bahwa dulu pernah saya terangkan di salah satu video, bahwasannya kemenyan, pada awalnya, berangkat sebagai wewangian yang menenangkan, yang diharapkan dapat meningkatkan konsentrasi ibadah seseorang.


Baca Juga :


Kemenyan, bagi leluhur orang Jawa, punya filosofinya sendiri. Sebagaimana kembang, kemenyan termasuk dalam ubarampe. Tadinya banyak dijumpai dalam upacara adat, termasuk ritual perkawinan, kelahiran, kirim doa di makam, selamatan desa, kenduri, dan lain-lain. Meskipun memang, semakin kesini, semakin sedikit yang mempersyaratkan kemenyan sebagai ubarampe.

Tidak ubahnya seperti kembang, kemenyan juga adalah simbol bagi para leluhur orang Jawa untuk menyampaikan suatu pesan. Sebagai sarana berdoa, dan memohon keselamatan.

Kemenyan yang dibakar akan mengepulkan asap beraroma khas. Hal ini dapat dimaknai sebagai talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi dzat ingkas maha kuwaos.

Artinya, bahwa hajat, ritual, atau acara yang diselenggarakan, hendaknya selalu ditujukan untuk meningkatkan keimanan manusia kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Kemenyan yang dibakar, dengan asap yang mengepul, diartikan seperti mengamini setiap harapan-harapan bersifat baik, dari acara yang diselenggarakan. Meskipun seperti yang saya sampaikan tadi, sekarang kemenyan tidak selalu ada dalam tiap acara selamatan.

Bara api yang membakar kemenyan, diibaratkan sebagai urubing cahya kumara. Atau serupa api yang membara. Melambangkan bara semangat, dan harapan di hati manusia, untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan.

Sedangkan asap kemenyan sendiri, dimaknai sebagai simbol agar permohonan atau doa manusia dapat diantar, sampai dan terdengar oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Jadi seperti halnya kembang, kemenyan sebenarnya tidak digunakan untuk keperluan memberi makan roh halus atau hantu. Meskipun tentu saja tidak dapat kita pungkiri, bahwa ada sebagian orang yang menyalahgunakannya untuk kepentingan menyimpang.

Kurang lebih seperti itulah, cara leluhur orang Jawa memaknai kemenyan. Dalam fungsinya sebagai sebuah ubarampe. Semoga dapat menambah wawasan kita bersama.