Asal Usul Jimat Kalimasada Yang Perlu Anda Ketahui

Sebagian dari Anda, mungkin sudah pernah dengar istilah Kalimosodo. Atau kadang tulisannya Kalimasada.

Kalau dari tuturan lisan tradisional, maka kalimosodo inilah, jimat sejatinya orang jawa. Jimat Kalimasada. Sedangkan bagi Anda yang gemar nonton wayang kulit, maka Anda pasti pernah mendengar istilah kalimodoso disebut, sebagai kitab pusaka milik Yudhistira. Jamus Kalimasada, disebutnya.

Banyak orang berpendapat, bahwa istilah Kalimasada diciptakan oleh Sunan Kalijaga berdasarkan Kalimat Syahadat. Dalam ajaran Islam sendiri, Kalimat Syahadat berisikan pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.

Mengingat Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media berdakwah, tidak heran bila kemudian istilah kalimosodo ikut masuk ke dalam cerita pewayangan.

Namun ternyata istilah Kalimasada sudah dikenal masyarakat Jawa sejak sebelum kedatangan Islam. Sehingga besar kemungkinan, Sunan Kalijaga memadupadankan istilah ini, dengan pemahaman Islam dalam menyebarkan agama. Karena memang Sunan Kalijaga bukan sekedar seorang ulama, tetapi juga budayawan ulung.

Istilah Kalimasada berasal dari kata Kalimahosaddha, yang ditemukan dalam naskah Kakawin Bharatayuddha. Tepatnya pada tahun 1157 atau sekitar abad kedua belas, di bawah masa pemerintahan Maharaja Jayabhaya, Kerajaan Kediri. Istilah ini dapat dipilah menjadi Kali-Maha-Usaddha, yang artinya adalah ‘obat mujarab Dewi Kali’.

Sedangkan bagi orang Jawa, makna Kalimasada, tentu saja lain lagi. Dibilang sebagai jimat, dibilang bahwa jimat kalimosodo ini bisa menjadikan kita orang besar, karena ada wasiat didalamnya.

Kata ‘lima’ bermakna angka 5, sedangkan ‘sada’ adalah lidi atau tulang rusuk daun kelapa, yang bermakna ‘selalu’. Artinya, kelima hal yang diwakili jimat kalimodoso, haruslah selalu ada dan utuh.

Kelima hal atau unsur tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, Ka-donyan, artinya keduniawian.

Ada istilah ‘aja ngaya dateng donya’ yang artinya jangan mengutamakan hal-hal duniawi. Kebutuhan duniawi boleh dikejar, tetapi tidak boleh diutamakan.

Kedua, Ka-hewanan, maknanya adalah sifat kebinatangan. Artinya manusia tidak boleh bertindak seperti hewan. Harus kenal susila, moral dan etika.

Ketiga, Ka-robanan, artinya hawa nafsu. Maknanya, manusia jangan sampai memelihara hawa nafsu. Namanya punya hawa nafsu itu manusiawi, tetapi harus bisa dikendalikan.

Keempat, Ka-setanan, artinya sifat setan. Maknanya, manusia jangan sampai bertindak gengsi, sombong dan tidak semestinya. Tidak boleh menyesatkan atau berbuat licik.

Terakhir, atau yang kelima, adalah Ka-tuhanan, artinya kosong. Maknanya, Tuhan itu ada, sekalipun tidak nampak wujudnya. Tidak bisa diceritakan dengan segala cara, tetapi nyata dan maha kuasa.

Nah, pertanyaannya sekarang, bisakah kita memiliki jimat kalimosodo ini? Bisakah kita menerapkan lima nasehat ini dalam hidup kita? Jika bisa, maka bukan tidak mungkin kita akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan menjadi contoh atau teladan bagi sekeliling kita.